Laskar Pelangi the Movie Menurut Saya

Di luar sana orang lagi pada rame banget ngomongin Laskar Pelangi the Movie, mudah2an belum terlalu basi kalau dibahas sekarang, karena premierenya sudah keluar sejak 25 Sept lalu.

Setelah nonton, menurut saya film ini tidak mengecewakan meski memang belum sempat baca novelnya terlebih dahulu. Banyak yang sudah nonton berkomentar mengenai ketidakpuasan mereka terhadap film garapan sutradara Riri Riza ini. Tapi menurut saya yang jauh lebih penting adalah bagaimana esensi film ini mampu diterima oleh anak-anak Indonesia khususnya, karena umumnya mereka tidak terlalu tertarik membaca novelnya yang kita tahu masih terlalu tebal untuk anak seumuran Sekolah Dasar.

Senang rasanya melihat adik saya, Evan mampu berhari-hari membahas tokoh Mahar di rumah dan dengan antusias bercerita kepada teman2nya yang belum sempat menonton film ini. Setidaknya Naruto dan sebangsanya sudah menjauh sejenak dari topik bahasan bocah 8 tahun ini. Bukan mainnya lagi sekarang dia bisa bersenandung lagu Seroja yang dinyanyikan tokoh Mahar dalam film Laskar Pelangi, walaupun banyak liriknya yang asal bunyi. Duhh, adikku, favoritku.

Ibarat oase, film ini memberikan sebuah penyegaran untuk anak-anak Indonesia yang lama disuguhi tayangan berkualitas rendah di televisi, yang banyak menghadirkan adegan saling mencela, kebanci-bancian, hedonism dsb. Jadi marilah kita yang sudah pada dewasa mampu memahami dan menerima film ini karena banyak hal positif yang didatangkan oleh film Laskar Pelangi bagi banyak anak Indonesia. Lagi pula kalau bicara ketidakpuasan, bukankah manusia memang susah untuk dipuaskan?

Bukan hal mudah memvisualisasikan sebuah novel kedalam sebuah film tanpa menggelitik daya kritis dari penonton. Pasti akan ada banyak perbedaan antara penuturan di dalam novel, dengan penggambaran di film. Namanya juga novel yang mengandalkan seni mengolah kata-kata, pasti di dalamnya akan ada beberapa gaya penulisan hiperbolis, metaforis dan lain sebagainya. Hal ini sah-sah saja dilakukan oleh penulis untuk dapat menjadikan tulisannya lekat di benak pembaca. Karena inilah gak heran kalau banyak bagian yang dituturkan di novel terasa tidak maksimal visualisasinya saat difilmkan.

Sejauh ini menurut saya Riri Riza adl sutradara film di Indonesia yang paling punya komitmen untuk menyuguhkan film yang selain berkualitas juga punya cast, setting serta alur cerita yang tidak melenceng jauh dari harapan penonton, meski memang tidak harus memenuhi harapan semua penonton. Kalau mau dibandingakan dengan Ayat Ayat Cinta, Harry Potter dan Cintapuccino yang juga sama-sama mengadaptasi dari novel, Laskar Pelangi the Movie tidak semengecewakan ketiga film tersebut. Untunglah film ini disutradarai oleh Riri Riza dan diproduseri oleh MiLes, bayangkan kalau keluarga Chand Parwez atau keluarga Punjabi yang memproduseri Laskar Pelangi the Movie…

Jadi wahai penonton film di Indonesia hendaknya tidak hanya mampu mencela sedemikian rupa karya yang tidak mudah untuk dibuat ini. Seolah-olah film ini tidak layak untuk dihargai. Bukankah salah satu ciri manusia modern adalah mampu menghargai dan mengapresiasi karya orang lain? Kalau masih belum bisa, berarti anda masih primitif..

Related link: www.laskarpelangithemovie.com

Catatan Pribadi Setelah Final EURO 2008

Akhirnya sang kakek yang membawa sepasukan cucunya ke lapangan hijau berhasil menaklukan Germany’s brotherhood di stadion Ernst-Happel semalam.

Luar biasa torehan yang dihasilkan oleh Spanyol sepanjang turnamen EURO kali ini. Mereka memang layak menyandang kembali gelar bergengsi Eropa empat tahunan yang kedua kalinya setelah 1964. Sebuah penantian yang sangat panjang, namun akhirnya mereka berhasil membuktikan bahwa mereka mampu berbicara banyak di level Eropa dan bahkan menyaingi juara dunia Italia dan Belanda yang baru satu kali menyabet trofi Henry Delauney, yaitu masing-masing pada tahun 1968 dan 1988.

Kemenangan Spanyol merupakan kemenangan sejati dan layak diraih, karena sejak awal putaran final laju Spanyol tidak tertahankan. Mereka meraih kemenangan penuh di seluruh pertandingan yang mereka jalani. Bahkan Spanyol belum pernah terkalahkan dalam pertandingan internasional mereka sejak November 2006!

Tim yang mengusung sepakbola sexy ini (istilah dari F. Torres) berhasil menyarangkan 11 gol dan hanya kebobolan 3 gol sebelum pertandingan final semalam melawan Jerman. Catatan mereka bertambah menjadi 12 gol yang mampu dicetak sepanjang putaran final, setelah berhasil membobol gawang Lehman pada pertandingan final. Jerman sendiri sebelum berlangsungnya pertandingan final seperti halnya Spanyol, juga berhasil mencetak 11 gol, hanya saja Jerman harus kemasukan 6 gol sejak penyisihan grup. Hal ini membuktikan bahwa lini depan dan belakang dari Spanyol sama kuatnya, dan inilah yang menjadikan Spanyol sangat pantas menjadi juara pada turnamen EURO tahun ini.

Sang pelatih yang memang sudah sangat berpangalaman akhirnya berhasil menjawab keragu-raguan publik Spanyol, dengan menunjukkan bahwa ramuan pemain yang Ia bawa dalam skuad Spanyol kali ini mempu menang besar. Tim-tim seperti Italia serta kuda hitam Rusia mampu mereka taklukan dengan mulus. Padahal banyak pemain yang Ia bawa pada EURO kali ini terbilang muda, namun inilah yang menjadi kekuatan Spanyol kali ini dan bahkan hingga bertahun-tahun nanti.

Jerman sendiri bukannya bermain buruk pada pertandingan semalam. Namun memang tim yang mereka hadapi adalah Spanyol yang kuat dalam semua lini. Terbukti Spanyol yang biasanya mampu mencetak rata-rata 2.5 gol dalam setiap pertandingan, semalam hanya mencetak the one and only golden goal yang dicetak Torres pada menit ke 33.

Jerman yang dikenal memiliki keunggulan dari segi fisik, disiplin serta memiliki mental juara, harus mengakui kekuatan sepak bola sejati Eropa tahun ini. Namun yang tidak pernah hilang dari Jerman adalah bahwa tim ini mungkin tidak konsisten dalam tiap pertandingan ke pertandingan, tetapi terbukti bahwa Jerman termasuk tim yang konsisten dalam hal pencapaian di beberapa turnamen yang dilaluinya. Saat banyak orang ragu pun, Der Panser selalu mampu mengatasinya dengan berusaha maksimal agar setidaknya tidak terlalu ‘jatuh’ dalam hal prestasi.

Meskipun tidak tampil sebagai juara, dalam berbagai turnamen Jerman termasuk yang paling sedikit absen. Mereka seringkali lolos ke putaran final dengan menang mudah, mampu lolos dari fase grup, bahkan sering mencatatkan diri sebagai tim yang lolos ke semi final bahkan final. Itulah mengapa mereka berjuluk sebagai tim spesialis turnamen. Jadi jangan heran jika pada berbagai turnamen besar di masa yang akan datang kita akan senantiasa menyaksikan kiprah Der Panser yang ternyata memiliki catatan luar biasa yakni juara dunia 3 kali, empat kali runner-up dunia, dua kali di tempat ketiga dunia, tiga kali juara Eropa, tiga kali runner-up di EURO, sejak 1954 berpartisipasi di seluruh pertandingan World Cup dan sejak 1972 selalu memasuki putaran final kejuaraan Eropa/ EURO.

Jadi, memang bukan sembarang tim yang mampu menembus final EURO tahun ini. Keduanya bahkan luar biasa. Inilah yang membuat EURO tahun ini begitu memuaskan untuk saya pribadi. Gol-gol yang tercipta di sepanjang putaran final bahkan terbilang sangat banyak, kurang lebih 77 gol. Ini menunjukkan bahwa kompetisi ini semakin bersaing, setiap tim mampu mencetak sejumlah gol. Permainan menjadi bukan hanya milik tim-tim besar, bahkan tim-tim non unggulan seperti Rusia dan Turki pun mampu memberi kejutan dengan lolos ke semi final serta mencetak cukup banyak gol.

Jalannya Pertandingan

Sejak kick-off,
Jerman mencoba untuk lansung mengambil inisiatif serangan. Dalam
sepuluh menit awal, pertahanan Spanyol harus berkerja keras menghalau
serangan lawan. Sebuah peluang Jerman datang dari tendangan keras
Miroslav Klose pada menit keempat. Tetapi bola masih melebar tipis dari
gawang Iker Casillas.

Pada menit ke-22, sebuah sundulan Fernando Torres setelah menerima
umpan Sergio Ramos dari sayap kanan mash membentur tiang gawang.

Terus-menerus mengepung pertahanan Jerman akhirnya Spanyol berhasil
mencetak gol. Pada menit ke-33, sebuah umpan terobosan Xavi Hernandez
mampu dimanfaatkan Torres dengan baik setelah melewati hadangan bek
Philip Lahm. Torres melepaskan tendangan lambung guna melewati
jangkauan Lehmann.

Unggul satu gol membuat mental pasukan Luis Argones itu semakin
meningkat. Sebaliknya Jerman mencoba bangkit guna menyamakan kedudukan.
Namun, hingga akhir 45 menit pertama tidak ada gol tambahan yang
tercipta.

Memasuki babak kedua, Jerman langsung menekan. Guna mempertajam lini
depan, pelatih Joachim Loew menggantikan gelandang Thomas Hitzlsperger
dengan striker Kevin Kuranyi. Keputusan ini terbilang tepat. Beberapa
kali serangan Jerman mampu menciptakan peluang. Sayang, kokohnya
pertahanan Charles Puyol dkk., membuat usaha Der Panzer selalu gagal.

Keadaan sebaliknya justru terhadi di kubu Spanyol. Untuk mempertahankan
keunggulan, Aragones memasukkan gelandang bertahan Xabi Alonso untuk
menurunkan tempo permainan. Spanyol hanya sesekali melakukan serangan
balik untuk mengejar gol tambahan.

Sepanjang babak kedua, Spanyol justru lebih banyak memperoleh peluang
melalui tendangan Andres Iniesta dan Marcos Senna. Setelah menit 90
berjalan, tidak ada lagi gol tercipta dan Spanyol memastikan diri
merebut gelar juara eropa untuk kedua kalinya.

Terakhir kali Spanyol merasakan gelar juara pada tahun 1964. Kini, setelah menunggu selama 44 tahun, La Seleccion kembali berpesta untuk kedua kalinya.

Susunan Pemain:
Jerman: Lehmann, Friedrich, Metzelder, Mertesacker, Lahm (Jansen
46), Hitzlsperger (Kuranyi 58), Frings, Podolski, Ballack,
Schweinsteiger, Klose (Gomez 79).
Cadangan: Enke, Adler, Fritz, Westermann, Rolfes, Neuville, Trochowski, Borowski, Odonkor.
Kartu kuning: Ballack, Kuranyi.

Spanyol: Casillas, Sergio Ramos, Puyol, Marchena, Capdevila,
Senna, Iniesta, Fabregas (Alonso 63), Xavi, Silva (Santi Cazorla 66),
Torres (Guiza 78).
Cadangan: Palop, Reina, Albiol, Fernando Navarro, Villa, Sergio Garcia, Arbeloa, Juanito, De la Red.
Kartu kuning: Casillas, Torres.

Gol: Fernando Torres 33′.
Penonton: 51.428 orang
Wasit: Roberto Rosetti (Italia).

Hwa sedih ternyata musim bolanya sudah selesai.
Can’t wait for EURO 2012 di Polandia, dan tentunya Piala Dunia 2 tahun
lagi, waw waw waw!

Road to Final EURO 2008

Ternyata eh ternyata, semua pertandingan di quarter final sampai semi final di event EURO tahun ini berlangsung seru dan malah banyak diantaranya yang berakhir dramatis.


Quarter Final

Di quarter final hampir semua tim-tim yang awalnya difavoritkan justru tumbang oleh tim-tim yang tidak terlalu diunggulkan. Tim-tim favorit itu antara lain Portugal yang dijegal Jerman 2-3, Kroasia yang dihentikan Turki dan yang paling fenomenal adalah Belanda yang harus menyerah 1-3 dari Rusia!


Pada pertandingan Portugal vs Jerman, Portugal yang lebih diunggulkan tampil sedikit di bawah performance. Dan Jerman yang tampil sangat baik malam itu berhasil ‘mengunci’ permainan Portugal, sehingga permainan taktis yang biasanya ditampilkan anak-anak asuhan Felipe Scolari, tidak banyak berkembang di sepanjang pertandingan.


Pada pertandingan Kroasia vs Turki, Turki yang dijuluki sebagai ‘king of comeback’ menyamakan skor setelah tertinggal 1-0 dari Kroasia. Dan pertandingan tersebut berakhir dengan kemenangan Turki 1-3 melalui drama adu penalti.


Quarter final ketiga mempertemukan Belanda dengan tim beruang merah, Rusia. Mungkin jika Van Basten bisa memilih, lebih baik timnya tidak bertemu Rusia yang diarsiteki oleh Guus Hidink, seniornya di kursi kepelatihan timnas Belanda. Terbukti, permainan Belanda yang biasanya begitu tajam dengan hujan gol, kali ini seperti memasuki masa paceklik (paceklik? halah… aneh banget!). Dan Belanda takluk 1-3 setelah sebelumnya bermain imbang 1-1 di 90 menit waktu normal. Kedudukan imbang tersebut berubah setelah 2 gol lagi dicetak Rusia pada babak perpanjangan waktu.


Pertandingan quarter final antara Spanyol vs Italia, juga sama dengan 2 pertandingan quarter final sebelumnya yang tidak dapat diakhiri dalam 90 menit waktu normal. Malah kemenangan Spanyol 4-2 atas Italia ditentukan melalui adu penalti.


Benar-benar dalam babak quarter final Euro tahun ini semua tim bermain habis-habisan dan melaju dengan tidak mudah. Tercatat hanya Jerman yang berhasil lolos tanpa bermain lebih dari 90 menit, namun kemenangan Jerman itu pun tidak mudah karena Portugal berhasil memasukkan 2 gol ke gawang Lehman. Dan tim lainnya Turki dan Rusia bermain di luar dugaan, kemudian Spanyol juga bermain sangat baik pada babak ini, dengan demikian mereka berhak melaju ke semi final.


Semi Final

Di pertandingan semi final pertama, Jerman bertemu Turki; tim yang menurut saya sering mbikin jantung makcekot (adduh otaknya udah nggak sanggup diajak pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar). Jerman akhirnya melaju ke final setelah menghentikan Turki 3-2. Pada pertandingan ini saya merasa agak deja vu, biasanya Turki menang setelah kebobolan dulu oleh lawan, kemudian membalikan keadaan menjadi kemenangan bagi Turki. Nah, pada pertandingan kali ini terjadi sebaliknya, Turki terlebih dahulu unggul kemudian dikejar, disamakan dan akhirnya dibalikkan menjadi kemenangan Jerman. Gantian yang makcekot sekarang jantungnya pendukung Turki (opo sehh..).


And the last but not least, Spanyol lolos ke final setelah menundukkan Rusia 0-3. Dan keajaiban tim-tim kejutan pun berakhir di babak semi final.


Jerman atau Spanyol

Aduh… saya suka Jerman tapi ndilalah cuma Spanyol yang menang terus-terusan sepanjang turnamen. Dan Spanyol baru saja mematahkan tradisi dimana Spanyol belum pernah menang dari Italia sejak tahun berapa… gitu, lupa. Kemudian juga tradisi EURO yang menunjukkan bahwa tim yang main bagus sejak awal justru gagal di babak-babak akhir (terbukti pada tim Belanda). Sejauh ini Spanyol memenangi seluruh pertandingan di putaran final EURO 2008 dan bukan tidak mungkin akan menang pula di babak final! Nah, momentum seperti ini tentu saja tidak akan disia-siakan, Spanyol pastinya akan ngotot dan tidak mau tanggung.


Sedangkan Jerman bisa dibilang bermain lebih di bawah pressure, karena ternyata jajak pendapat dan bursa taruhan Eropa banyak menjagokan tim dengan julukan ‘mesin diesel’ ini sebagai juara EURO 2008, meskipun Spanyol juga banyak dijagokan karena melihat torehan mereka yang luar biasa di sepanjang turnamen. Selanjutnya catatan head to head kedua tim pun menunjukkan bahwa Jerman lebih banyak menang atas Spanyol. Kalau saja ini pertandingan persahabatan, Jerman bisa saja tampil lepas, tapi karena ini final EURO 2008 bukan tidak mungkin Jerman dengan catatan yang baik ini, justru akan tegang saat menghadapi Spanyol.


Jalannya pertandingan final nanti pasti
akan sangat seru di lapangan tengah. Kita ketahui kedua tim sangat baik
dalam hal kolektifitas untuk menciptakan peluang-peluang gol, bukan hanya sekedar mengandalkan bola-bola mati. Di tim
Jerman sendiri saya sangat menikmati kecepatan, kejelian dan ketenangan
Lukas Podolski (demenn!) yang berpadu dengan insting dan tampang tengil sang pemberi inspirasi, Bastian
Schweinsteiger (sukaa!). Dua pemain yang dipasang Low sebagai pemain
sayap ini, justru lebih banyak menciptakan peluang dan bahkan gol,
dibandingkan Klose dan Gomez yang dipasang sebagai striker yang
sesungguhnya. Di kubu Spanyol ada nama-nama besar Xavi Hernandes,
Iniesta, Xabi Alonso juga Fabregas yang menentukan perolehan bola di
lapangan tengah untuk kemudian didistribusikan bagi striker-striker
mereka yang terkenal tajam, David Villa dan Fernando Torres. Waduuh pastinya akan berlangsung seru nih.


Kemudian kalau dianalisis lebih lanjut, ternyata pelatih kedua tim ibarat bapak dan anak dari segi usia. Kita tahu bahwa Luis Aragones (70) saat ini tercatat sebagai pelatih tertua di ajang EURO 2008, sedangkan Joachim Low (48) termasuk pelatih termuda dalam ajang ini selain Slaven Bilic, Dona Doni dan Van Basten. Saya membayangkan mungkin Aragones adalah seseorang yang selain matang dalam hal strategi, juga bersifat bijak dalam mengarahkan anak-anak asuhannya, petuahnya mungkin akan sedikit filosofis namun lebih mendalam dan menenangkan, khas orang tua. Sedangkan Joachim Low mungkin akan lebih teknis dalam mengarahkan, penuh perencanaan dan tidak ketinggalan menyertakan backup plan dan dengan sedikit perpaduan kekhawatiran. Wih bakal seru, dan pada akhirnya nanti akan sama-sama kita buktikan apakah fenomena kemenangan pemimpin muda yang bikin heboh pada berbagai pilkada dan pemilu akankah berlaku juga di dunia sepak bola? =p


Nah, jadi  saat ini saya tidak mau menjagokan salah satu dari kedua tim ini, takut patah hati T_T. Tapi untunglah final EURO tahun ini tidak terlalu ‘mengejutkan’ bagi saya, siapapun pemenang di final nanti layak disebut juara, karena kedua tim bermain sangat baik, dan yang penting ONLY GOOD FOOTBALL, NO DIVING, NO PROVOKASI MULUT BAWEL (usaha menyindir salah satu tim peserta EURO 2008), karena diving saharusnya cuma dilakukan di pantai bukan di lapangan hijau, dan mulut bawel tentunya hanya milik ibu-ibu bawel bukan milik pemain sepak bola yang notabene laki-laki!

Turki Memberi Contoh Bagi Tim Lain

Dahsyat, Dramatic! Sejauh ini di kompetisi EURO 2008, menurut saya pertandingan antara Turki vs Rep. Ceko merupakan yang paling dahsyat.

Bagaimana tidak (halah terlalu resmi..), Turki tertinggal 0 - 2 di saat pertandingan hanya menyisakan 15 menit, namun keadaan menjadi berbalik, Turki unggul 3 - 2 sampai final result. Ga ada kata2 lain deh: Dahsyat n Dramatic!

Yah meskipun sang penjaga gawang harus diganjar kartu merah oleh wasit, setidaknya Turki lolos ke perempat final. Turki menunjukkan bahwa kerja keras di menit demi menit dalam pertandingan sepak bola sangat menentukan hasil akhir.

Petaka Rep. Ceko menurut saya dimulai saat terjadi gol pertama bagi Turki, karena setelah itu serangan demi serangan Turki ke gawang Peter Cech semakin gencar. Kewalahan, Cech pun akhirnya melakukan blunder dan kapten Turki memberi gol kedua bagi timnya, menyamakan kedudukan menjadi 2 - 2.

Sayangnya tidak hanya sampai di situ, konsentrasi Peter Cech nampak buyar setelahnya, sehingga hanya 1 menit berselang dari gol kedua Turki, akhirnya terjadi gol ketiga yang juga dilesakkan oleh sang kapten, Nihat Kahveci.

Wah jadi tidak sabar, menyaksikan kiprah Turki nanti saat bertemu Kroasia di babak selanjutnya.

BISA-BISANYA SEPAK BOLA…

Inggris lagi-lagi akan berhadapan dengan Kroasia pada penyisihan PIALA DUNIA 2010 nanti, setelah hasil undian pembagian tim-tim ke dalam 9 grup untuk zona Eropa, menempatkan Inggris berada dalam Grup 6 bersama Kroasia.
Bakal seru pastinya, karena  dendam Inggris setelah  pekan lalu dikalahkan  Kroasia 2-3 pada  kualifikasi Euro 2008–yang membuat  Inggris gagal melaju ke putaran final EURO 2008, bakal masih terasa.
Dan saya, lagi-lagi mungkin akan menyaksikan pertandingan Inggris-Kroasia sambil gigit-gigit bantal, teriak-teriak tengah malam, dan melancarkan umpatan yang segera disusul dengan "Astaghfirullah…", persis seperti saat menyaksikan pertandingan keduanya pakan lalu.
Tapi yg pasti, pekan lalu maupun nanti, antara Inggris-Kroasia saya tetap ngejagoin Kroasia, hahahaha… Pararunten euy, buat para pendukung Inggris. Ya mau bagaimana lagi, untuk tim sekelas Inggris yang katanya negara tempat lahirnya sepakbola, harusnya jangan ‘nanggung’ melulu mainnya. Kalaupun menang, skornya tipis aja gitu dari lawannya, dan masih berjuang untuk lolos ke putaran final di last minutes… Wajar aja kalo akhirnya sekarang peringkat mereka diloncati Yunani.
Biarin dulu aja deh, supaya Inggris bisa introspeksi n lebih baik lagi kedepannya. Daripada lolos mulu dari lubang jarum, tapi kalo main bikin gemes yang nonton.

HASIL UNDIAN UNTUK PENYISIHAN PIALA DUNIA 2010 ZONA EROPA

Grup 1 : Portugal, Swedia, Denmark, Hungary, Albania, Malta.

Grup 2 : Yunani, Israel, Swiss, Moldova, Lativa, Luxembourg.

Grup 3 : Republic Cheko, Polandia, Irlandia Utara, Slovakia, Slovenia, San Marino.

Grup 4 : Jerman, Rusia, Finlandia, Wales,  Azerbaijan, Liechtenstein.

Grup 5 : Spanyol, Turki, Belgia, Bosnia-Herzegovina, Armenia, Estonia.

Grup 6 : Inggris, Kroasia, Ukraina, Belarus, Kazakhstan, Andorra.

Grup 7 : Austria, Faeroe Islands, France, Lithuania, Romania, Serbia.

Grup 8 : Italia, Bulgaria, Siprus, Georgia, Irlandia, Montenegro.

Grup 9 : Belanda, Islandia, Maksedonia, Norwegia, Skotlandia.

 

YANG MENGGANGGU PIKIRAN SAYA BERHARI-HARI BELAKANGAN

Jawabannya: Tingkah Malaysia! Belum lagi hilang sakit hati karena lagu Rasa Sayange  belum lama ini dipakai sebagai jingle promo Visit Malaysia oleh pemerintah malaysia, sekarang lagi2 mereka bikin berita. Apalagi kalau bukan sikap diskriminasi yang dilakukan RELA Malaysia terhadap beberapa WNI yang dicurigai sebagai pendatang ilegal. Beritanya seperti dikutip dari harian media indonesia:

Terakhir adalah kasus penangkapan terhadap istri atase pendidikan
pada Kedutaan Besar Indonesia yang sedang berbelanja di mal oleh para
anggota Rela–semacam hansip di Indonesia. Sang istri tidak melakukan
kesalahan apa-apa. Ia memiliki dokumen lengkap sebagai istri seorang
diplomat Indonesia. Namun, ia tetap ditahan walaupun akhirnya
dibebaskan.

Perlakukan kasar juga dilakukan orang-orang Rela terhadap seorang
mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Kuala Lumpur. Mereka
mendobrak pintu apartemen dengan kasar dan pergi tanpa minta maaf.
Alasannya mereka sedang mencari orang-orang ‘indon’ yang tidak memiliki
dokumen legal."

Padahal kedatangan TKI ilegal ke Malaysia juga bukan hanya karena ulah sindikat di Indonesia, namun lebih dari itu sindikat dari Malaysia juga memanfaatkan peluang tersebut.
Perlakuan diskriminasi rakyat Malaysia terhadap warga Indonesia nampaknya semakin menguat, dan seperti tersistem. Mereka menyebut warga Indonesia sebagai bangsa bodoh, bangsa buruh dan penjenayah atau pelaku kejahatan. Mereka lupa bahwa TKI pun turut berperan pada stabilitas ekonomi Malaysia saat ini. Bukannya mengingat jasa Indonesia sebelum Malaysia merdeka hingga kini dan nanti, sebaliknya mereka justru mencuri keragaman budaya Indonesia dengan mengakuinya sebagai milik mereka (huh memang mereka tidak kreatif!) dan bahkan memperlakukan Indonesia seperti negara terbelakang. Memang rupanya murid sudah merasa lebih pintar dari gurunya.
Malaysia memang akan selalu punya kepentingan akan apa yang dimiliki maupun tidak dimiliki Indonesia. Mengingat secara geografis kedua negara bertetangga dan memiliki ras yang sama. Dan beragam kejadian di salah satu negara dapat berpengaruh kepada negara yang lainnya.
Sebenarnya saya lebih melihat ini sebagai bagian dari pembodohan yang dilakukan pemerintah Malaysia kepada rakyatnya, hampir mirip dengan Indonesia ketika dipimpin oleh rezim yang 32 tahun itu.
Saat ini pemerintahan Malaysia bukan sama sekali bersih dari skandal dan persoalan intern dalam negeri. Seperti yang dimuat dalam malaysia-today.net, sebuah situs yang dimotori oleh kelompok oposisi di Malaysia. Di situs ini kita dapat melihat Malaysia dari sisi yang sama sekali berbeda. Dikatakan bahwa PM Malaysia Abd Badawi pun terkena skandal penggelapan dana bantuan makanan untuk Iraq, sebagaimana ditulis dalam buku yang berjudul "Oil for Food". Dituliskan bahwa Badawi merupakan pemimpin tak berhati nurani, sehingga membiarkan pemimpin Iraq, Sadam Husein mati ditali gantungan. Bahwa perbuatannya bertolak belakang dengan apa yang dilakukan rakyat Indonesia saat tsunami melanda bumi Aceh. Dan bahkan tuduhan lainnya menimpa PM yang akrab dipanggil Pak Lah itu, antara lain  mengenai nepotisme dan kronisme yang Ia berlakukan, dan lebih lanjut diberitakan bahwa famili dan kroninya juga dikabarkan turut menikmati uang yang seharusnya sampai ke rakyat Iraq tersebut. (Alhamdulillah, piala Asia kemaren saya jagoin n berdoa untuk kemenangan tim Iraq, which is akhirnya mereka menang!)
Belum lagi berbagai persolan lainnya, seperti kebijakan pemerintah Malaysia yang terlalu berpihak pada kepentingan Bumiputera atau ras melayu saja. Seperti dikutip dari harian Kompas:
"Meski pembangunan
kota Kuala Lumpur begitu hebat, sejumlah pihak (terutama oposisi)
justru merisaukan dan mengkhawatirkan pelaksanaan NEP yang secara
terselubung menganakemaskan etnis Melayu, "meminggirkan" etnis China
dan India. Meski dianggap penting bagi pembangunan di Malaysia,
kebijakan yang digagas dan diletakkan Perdana Menteri Tun Abdul Razak
sebagai jawaban atas kerusuhan etnis di Malaysia tahun 1969 itu kini
justru melahirkan kecemburuan.

Inti
NEP adalah pemberian berbagai keistimewaan kepada etnis Melayu.
Berbagai keistimewaan itu diharapkan mampu mengangkat etnis Melayu dari
kemiskinan. Saat itu penguasaan ekonomi etnis Melayu hanya 2,4 persen,
sementara warga China dan India menguasai 33 persen serta 63 persen
dikuasai warga asing. Tingkat kemiskinan warga Melayu mencapai 49
persen. Melalui NEP, perbandingan kemampuan ekonomi di antara tiga
kelompok besar ini bisa menjadi 30 persen (Melayu), 40 persen (China
dan India), dan 30 persen (warga asing).

Atas
pelaksanaan kebijakan ekonomi ini, berbagai pihak mengakui, NEP
berhasil mengurangi tingkat kemiskinan dan menaikkan penguasaan ekonomi
warga Melayu. Namun, pengistimewaan yang berlebihan juga melahirkan
sejumlah pengusaha Melayu "Ali Baba", alias pengusaha di atas angin.
Setelah mendapat kontrak kerja, mereka tidak mengerjakan sendiri,
tetapi menjual atau menyubkontrakkan kepada pengusaha non-Melayu.
Dampak lanjutannya, terjadi kebocoran belanja pemerintah dan penggunaan
dana yang tidak efisien.

Tidak
hanya itu. Dalam bidang yang lain, pendidikan, misalnya, diberlakukan
kuota. Kesempatan menikmati pendidikan (tinggi) pertama-tama diberikan
kepada etnis Melayu. Etnis lain dijatah berdasarkan kuota
."

Bahaya besar dikemudian hari, apabila kebijakan ini terus diberlakukan. Menurut saya ini seperti bom  yang menunggu waktu untuk meledak. Oleh karena itu sebenarnya persolan ini merupakan PR besar bagi pemerintahan Abd Badawi.

Nampaknya oposisi di Malaysia sedang bertekad untuk
membongkar
kebobrokan pemerintahnya, dengan melihat Indonesia sebagai salah satu
role model. Mereka menganggap masyarakat Indonesia telah memiliki kesadaran berpolitik dibandingkan rakyat malaysia, yang menurutnya dibutakan oleh pemerintahnya yang memang berasal dari partai pemenang pemilu. Belum lagi pemerintah Malaysia memberlakukan peraturan yang teramat ketat berkaitan kebebasan pers, yang bisa dibilang tidak ada sama sekali disana. Dikabarkan bahwa media hanya boleh memberitakan mengenai pencapaian2 gemilang pemerintahan Abd Badawi. Sama sekali tidak akan ditemui pemberitaan2 mengenai kelemahan pemerintah, baik di media cetak maupun elektronik di malaysia, kecuali media internet yang memang tidak diatur izinnya.
Jadi sangat mungkin saat ini pemerintah Malaysia yang was-was akan tumbuhnya kesadaran rakyat terhadap berbagai persoalan bangsa, menjadi semakin dituntut untuk mampu menutupinya dengan cara apapun. Kebebasan pers di Indonesia yang saat ini turut berperan membongkar berbagai kelemahan sistem pemerintahan, dan berbagai berita negatif mengenai keadaan di Indonesia sendiri secara keseluruhan, kemudian menjadi peluang bagi pemerintah Malaysia untuk menuding Indonesia ‘yang tidak-tidak’. Indonesia kemudian lebih dikenal sebagai bangsa koruptor, pendatang gelap dan sebutan2 lain yang mendeskreditkan, yang walaupun ada benarnya namun alangkah kejinya jika hanya memandangnya dari satu sisi saja.
Jika memang semua gonjang-ganjing antara Malaysia dan Indonesia ini adalah akal-akalan pemerintah Malaysia semata, hendaknya kita tetap tidak dapat membiarkan kacang yang lupa pada kulitnya ini semakin lepas kendali. Diperlukan keputusan tegas dari pemerintah Indonesia saat ini mengenai hubungan kedua negara, tentunya ditengah berbagai persoalan lain yang masih mendera Indonesia.
Jangan ada lagi kekayaan bangsa ini yang dibalik nama oleh Malaysia, jangan ada lagi TKI/TKW yang mendapat penyiksaan dan perlakuan tidak menyenangkan lainnya oleh majikannya di Malaysia apalagi di luar sana banyak TKW Indonesia di Hongkong yang bahkan mampu berkuliah (sungguh situasi yang berbeda), jangan ada lagi maaf-maafan tapi tindakan tegas karena Malaysia sudah terlampau takabur!

Soe Hok Gie
ditulis oleh Rudy BadiL (Intisari edisi Desember 1999)

Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.

"Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan," kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.

Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. "Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu," lanjutnya.

Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. "Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru … perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu," begitu bunyi naskah buku kecil acara "Mengenang Seorang Demonstran", (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.

Kasih Batu dan Cemara
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru.

Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.

Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.

Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, "Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI." Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. "Soe dan Idhan kecelakaan!" katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.

Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.

"Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya," begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.

Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.

Mengapa Naik Gunung
Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.

Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. "Pokoknya gue akan berulang tahun di atas," katanya sambil mesam-mesem. "Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali."

Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. "Keren enggak?" Tanyanya.

Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.

Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.

Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan "falsafahnya", kala mengajak seseorang mendaki gunung. "Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini," kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.

Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.

Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.

Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan … Tides dan Wiwik 18-12-69.

Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan "site" tempat jenazah Soe dan Idhan … kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat … sebanyak mungkin!

Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.
Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Monyet Tua yang Dikurung
Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: "… Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru …."         Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan "Cina Kecil", memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata "sakti" filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: "Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."

Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: "Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur."

Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang … makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian." (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: "Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang." Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: "Ah, Mama tidak mengerti".

Arief pun menulis kenangannya lagi: … di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik … dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan … saya terbangun dari lamunan … saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, "Gie kamu tidak sendirian". Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.

Mimpi Seorang Mahasiswa Tua

John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.

Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: …Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih … kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.

Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: … Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan …. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan … bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.

Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, … Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom.

Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh - dan pemuda, bangkit dan berkata - stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: … Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.

Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.

Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: … Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.         

Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki "politisi berkartu mahasiswa". Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.

Berpolitik Cuma Sementara
John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, "Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas."

Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun … namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental "asal bapak senang", serta "yes men", atau sudah pasrah.

Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa." Demikian tulis Maxwell.

Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.

Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.
Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya "Pesan" dan cukilan pentingnya berbunyi:
Hari ini aku lihat kembali Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka yang tanpa tentara mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang mau memberantas korupsi
Kawan-kawan Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan Selalu dalam hidup ini?

SuKaSuKaNgoMoNgApA

Iya, iya deh terakhir, masih gatel pengen kasi komentar sii. Ngatain Italy udah, memuji Zidane udah, belum lengkap kan klo belum bahas Jerman, tim yang tercatat dalam statistik akhir sebagai tim terbaik dalam menyerang, weuw…

Btw, tentang statistik akhir, anehnya si juara kita itu, siapa tuh… oiya Italy! Masa ga tercatat sebagai tim bertahan terbaik? Malah Swiss yang dinilai paling baik dalam bertahan, jadi bingung… Menyerang engga, bertahan juga bukan… Tapi menang… Kalo menurut saya sih, Italy bagus ko bertahannya, tapi kenapa Swiss yaa, tetep bingung…

Ya sudahlah, kita kembali kepada Jerman. Hwaaaa suka… masi pada muda lagi. Strategi Der Panser juga, saya suka banget… Menyerang! 14 gol bersarang di gawang lawan membuktikan emang lini tengah n depan Jerman tu paling tajam. ‘Menyerang’ terdengar lebih manly ktimbang ‘bertahan’. Sebenernya saya juga lumayan suka sama tim Argentina, sayang terlalu awal ketemu Jermannya.

Harapan saya sii, mereka bisa berkiprah lebih jauh di Euro2008 nanti. Semoga, amiin. Ow iya, bicara tentang harapan, saya si maunya ntar Euro2008 n Piala Dunia 2010 kembali lagi ditayangin sama RCTI. Ehm ehm sorry to say nii, saya kecewa sama SCTV. Gak suka aja cara mengemas acaranya… juga termasuk pemilihan bbrp pendukung acara. Melihat Rendra Sujono saja, bikin saya rindu Bung Olan n Bung Ricky Jo di RCTI. Bukan karena mereka sama asiknya, tapi karena mendingan Bung Olan n Ricky Jo. Punten lah ini mah. Ditraining ga sih kalo mo jadi presenter, soalnya ko aneh aja rasanya…

Saya ngomong berdasar ko… nih dikasi contoh, dalam pemilihan kata, saya contohin waktu Rendra ngomong dgn ngotot: "Tapi bung, sangat tidak pantas hal itu dilakukan oleh seorang master seperti Zidane…" coba deh, bakal lebih indah jadinya diterima kuping kalo kalimatnya berubah jadi: "Tapi menurut saya sangat disayangkan di akhir karirnya, Zidane melakukan tindakan seperti itu. Bagaimana menurut anda, Bung?’ diucapkan dengan intonasi yang terjaga.

Atau mengenai kenetralan saat membicarakan 2 tim yang akan bertanding, contoh wktu Rendra gegabah dan sembrono, bilang: "Ya, bagaimana Bung, kita ketahui bersama bahwa Italy adalah tim dengan determinasi tertinggi di piala dunia saat ini, sedangkan Perancis adalah tim dengan keberuntungan tertinggi sehingga mencapai final…", Heh, untuk mengalahkan Spanyol, Brasil n Portugal bukan mengandalkan keberuntungan, kalo bgitu caranya mah, kalo saya yang mbawain acara bisa aja saya bilang: ‘…Italy merupakan tim dengan tipu muslihat terbanyak…‘ karena saya ga suka Italy. Dukung Italy sih boleh2 aja Bung Rendra, tapi ya mbok ya masa Perancis dibilang mengandalkan keberuntungan.

Obyektif dong obyektif, dengerin juga kalo si pemandu pertandingan yang pake bhs Inggris itu ngomong, kalo gak ngerti bahasa Inggris ya belajar dulu. Listeningnya diperdalam. Banyak informasi penting mengenai jalannya pertandingan yang dilaporkan sama pemandu pertandingan yang belum tentu diketahui presenter maupun komentator, jadi perhatiin.

Bung Olan sama Ricky Jo aja ga pernah ketauan bela tim tertentu saat bawain acara, baik di La Liga, Bundes Liga, Liga Champion juga UEFA Cup. Mereka pasti banyak baca n browsing informasi, shg pernyataan dan pertanyaan mereka tu berdasar. Gak bikin pendukung salah satu tim jadi gondok, soalnya analisis pertandingannya jadi fair, masing2 tim diungkap sejumlah kelebihan n kekurangannya, jadinya kan bersifat informatif juga.

Tapi untung masih ada Bung Roni pattinasarani, keadaan jadi lebih baik… Oia, SCTV clossing ceremonynya mana? di promo bilangnya mau nayangin. ko saya tunggu sampa ga tidur, Shakira, IL Divo dkk ga nongol nongol juga… Gimana sih?

Je T’adore Zidane!

Yess, Zidane kepilih jadi pemain terbaik, Alhamdulillah, hehehe…

Kalaupun akhirnya Zidane ga kepilih, buat saya mah tetep Zidane yang layak dapet Golden Ball Award. Insiden dikeluarkannya dia dari lapangan malah bikin tambah suka, heuheu.. Ga ngaruh lah pokonya!

Kata siapa, nanduk dada si Materazi ga pantas dilakukan seorang Zidane? Heh, nih, Zidane juga manusia euy! Cowo lagi! Sok weh, kmu yang cowo, kalo ada cowo sial yang ngatain ibu atau saudara perempuan kamu dengan perkataan yang gak pantas, atau ucapan profokatif lainnya semisal ‘teroris luh!’, apa kamu mau diem aja? Atau mau bales ngatain? Cowo yang bener mah, heu… langsung aja tonjok, ga usah panjang lebar!

Sebelnya lagi si Materazi ga mau memberikan pernyataan terkait hal itu, malah yang ngomong sama pers justru bapaknya, sapa tuh namanya… mmmm… Giusepe Materazi! Katanya anaknya yang lebih dulu diprovokasi sm Zidane. Heh, bapak, sini mana anaknya dipanggil! Suruh ngomong langsung! Jangan jadi banci!

Masa ditanduk gitu doang langsung manggil tandu? Kalo gak ngerasa salah mah, pasti dia gak akan terima disruduk kaya gitu! Yang bener tuh harusnya dia bales nonjok si Zidane. Ributin sekalian biar rame, peduli setan dengan kartu merah! Tapi Yaa mungkin tipikal cowo Italy bgitu kali yaa, deuh… amit-amit saya mah!

Btw, Zidane juga berhasil memenangkan penghargaan Man of The Year 2006, tapi versi DIAH, hahaha… Dengan pertimbangan: dia berani membela harga dirinya, dia membawa Perancis yang awalnya tampil meragukan bisa melaju ke final dengan sebelumnya mengalahkan tim2 sekelas Spanyol, Brasil n Portugal (kwereeen!), gak minum alkohol (informasinya akurat euy), gak neko-neko, n sukanya lagi Zidane itu berani memutuskan menikah di tahun 1993 pdhl umurnya baru 21 (dari mjlh soccer), hwaaaa mau mau… anaknya 4 lagi! cowo smua! hwaa, kalo kata Desta n Vincent mah: udah ganteng, subur lagi, kwkwkw…. lucu pisan!

Je’ T’adore Zidane! France still love u ko’… Allez!

Curhat Pildun

Piala Dunia udah berakhir, juaranya udah ketauan. Meski tim favorit saya, Jerman akhirnya cuma berhasil jadi juara tiga, mereka tetap tidak mengecewakan. Maennya stabil, n masih punya harga diri dengan ga pernah berpikir untuk fokus bertahan kurangi menyerang, bahkan saat mereka unggul 2-0 sekalipun. Pokonya, Attack! kata Klinsman.

Mungkin setiap pecinta sepak bola punya pendapat masing2 mgni mana yang lebih baik antara konsep sepakbola modern yang lebih menyerang atau cattenacio ala Italy? Kalau saya sih lebih suka yang pertama, lebih enak ditonton n masih ada harga dirinya. Makanya saya ga suka Italy.

Pernah sih suka Italy, terakhir pas Euro 2000. Ngedukung Italy karena, pemain-pemainnya paling familiar, krn biasa liat di Lega Calcio. Tapi makin ngerti sepakbola, makin gak suka Liga Italia. Terutama karena ada yang aneh dengan beberapa kemenangan2 Juventus sepanjang saya sering nonton Lega Calcio. Yang paling menyebalkan, dan akhirnya bikin ga mau lagi nonton pertandingannya Juve, adl waktu Juve ketemu Parma sekitar tahun 2000/2001. Masih inget banget, waktu wasit yang mimpin pertandingan itu, menganulir gol Cannavaro ke gawang Juve, Canna masih main buat Parma kala itu. Padahal orang bego juga tau kalo itu murni gol!! Saking sebelnya sama Juve, wkt pas Juve gagal jadi scudetto th 2000, saya mah malah sukuran, traktir temen2 sesama JuveHater. Keadilan berpihak! Tapi kenapa baru sekarang2 ramenya, skandal ‘pengaturan’ pertandingan…

Sebel juga karena Italy tu mnurut saya mah, salah satu tim yang pemain2nya sering manggil tandu. Tulungs bangets, males kan nonton pertandingan yang pemain-pemainnya dikit-dikit minta ditandu? Jatuh dikit, gogolerannya lama, tapi abis itu lari-lari lagi sambil neklingin lawan. Duh! Apalagi kalo uda diving, malesin banget dah. Yang kaya bgini pantesnya dapet Anugerah Oscar untuk kategori best actor (ya Dil?), bukannya malah bawa tropi FIFA World Cup. Emang sih namanya juga memanfaatkan peluang yang ada, sesekali masih dimaafkan, tapi berkali-kali sih, memuakan.

to be continued…

11 July 06
Iya, jadi buat yang ga setuju sama pendapat saya tentang kengocolan bbrp pemain Italy spt saya ungkap sblmnya diatas, lakukan pembuktian: nanti kalo ada kesempatan nonton pertandingan internasional Italy lagi dlm bbrp minggu/bulan kedepan (terutama partai penting n besar semisal kualifikasi Euro 2008) perhatikan dan kalo perlu hitung, berapa kali tandu atau setidaknya tim medis dateng untuk pemain Italy, berapa kali pemain Italy neckling/narik lawan tapi ikutan jatuh juga sbg kamuflase, berapa kali mereka mllkn protes kpd wasit, juga berapa jml diving (yang ini gunakan logika). Kalau sudah maka kamu akan mengerti kenapa saya berpendapat spt ini. Males ngitung n merhatiin? Ya uda, ga papa juga…. Terseraaakh!

Dan sialnya dari beberapa usaha tipu muslihat itu, akhirnya membawa Italy bertemu Ukraina. Masih inget kan gimana Grosso memanfaatkan tubuh pemain belakang Australia yang terbaring, sebagai sandungan dia di kota penalty? Dan selanjutnya, yang terjadi adalah penalty utk Italy. Padahal di pertandingan itu, mnurut saya Australia tampil lebih ‘mengancam’…

Saya ga bilang permainan Italy jelek, bagus… Tapi sebagai cewe yang juga sepakbola, saya gerah aja liatnya, mereka kan cowo, kalo niatnya ngejatohin mental lawan dengan cara menciptakan keadaan seperti itu sih, males aja nontonnya. Coba deh jadi pemain yang sulit dijatuhkan saat lawan melakukan tekling, cara ini juga bisa membuat lawan jadi stres, kan kesannya: ‘nih orang susah bgt dijaga n dijatuhkan…’ Nah, buat saya cara yang terakhir lebih cowo banget.

Dari sekian banyak kekesalan2 sama Italy, saya masih lumayan suka sama Pirlo. Dia paling ‘normal’ diantara temen-temennya. Pekerja keras, belom pernah liat dia jatuh n ngjatuhin lawan dengan cara yang aneh, crossingnya bagus, sedikit bicara. Ya pokonya paling mending dari semuanya.

Demikian pendapat saya mgni sang juara (ceunaaaahh…), rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala tak akan sama.

Next Page »